Sarangberita.com, 5 April 2025 – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China telah memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor industri di Indonesia. Ketegangan perdagangan ini memicu perubahan arus perdagangan global yang turut memengaruhi perekonomian nasional.
Sektor manufaktur Indonesia merasakan tekanan akibat perang dagang ini. Penurunan permintaan ekspor dari AS dan China, sebagai dua mitra dagang utama, menyebabkan perlambatan produksi di beberapa industri.

Peneliti dari Center for Economic and Law Studies (Celios), Muhammad Zulfikar Rakhmat, menekankan perlunya diversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan pada kedua negara tersebut.
Industri otomotif nasional juga terdampak, dengan adanya pelemahan ekonomi dan inflasi yang dipicu oleh perang dagang AS-China.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam. Menyatakan bahwa situasi ini menyebabkan kenaikan harga dan inflasi, mirip dengan dampak dari konflik Rusia-Ukraina.
Sektor tekstil dan karet menghadapi tantangan dari masuknya produk murah asal China yang dialihkan dari pasar AS ke Indonesia. Hal ini meningkatkan persaingan dan menekan harga produk lokal, sehingga mengancam kelangsungan industri dalam negeri.
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah antisipatif, seperti menerapkan bea masuk antidumping terhadap produk film nilon dari China, Thailand, dan Taiwan. Kebijakan ini bertujuan melindungi industri lokal dari praktik perdagangan tidak fair.
Perang dagang AS-China memberikan tantangan bagi industri Indonesia, terutama dalam hal ekspor dan persaingan dengan produk impor.
Diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk lokal. Kebijakan protektif menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan industri nasional di tengah ketidakpastian perdagangan global.