Yuan di Hormuz dan Bayangan Dunia Pasca-Dolar AS
SARANGBERITA.COM – Iran mulai secara resmi menerima yuan (RMB) sebagai alat pembayaran untuk sebagian besar minyak yang melintas Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Langkah ini – yang telah dirintis sejak 2023 – kini mencapai titik kritis: lebih dari 42% transaksi minyak Iran dengan pembeli Asia (terutama Tiongkok dan India) sudah menggunakan yuan, menurut data perdagangan yang bocor ke Reuters dan Bloomberg.
Dari Petroyuan ke Realitas Hormuz
Selat Hormuz menyalurkan sekitar 21 juta barel minyak per hari (sekitar 21% konsumsi minyak dunia). Jika sebagian besar pembayaran minyak yang lewat jalur ini menggunakan yuan, maka status dolar sebagai mata uang utama perdagangan energi global akan semakin terkikis.
Beberapa fakta penting per Maret 2026:
- Persentase transaksi minyak Iran dalam yuan: ~42% (naik dari 28% tahun 2025)
- Pembeli terbesar: Tiongkok (68%), India (19%), negara-negara ASEAN & Turki (13%)
- Bank sentral Tiongkok (PBOC) telah menyiapkan jalur kliring yuan langsung dengan Bank Sentral Iran
- Kontrak minyak jangka panjang Tiongkok–Iran kini hampir seluruhnya dalam yuan
Reaksi Pasar dan Analis
Analis Goldman Sachs menulis dalam laporan 15 Maret 2026:
“Yuan tidak akan menggantikan dolar dalam waktu dekat, tetapi Hormuz bisa menjadi titik balik psikologis. Jika 30–40% minyak dunia mulai diperdagangkan dalam mata uang selain dolar, status eksorbitan dolar akan tergerus secara permanen.”
Sementara itu, JPMorgan Chase memperkirakan:
- Permintaan global terhadap dolar sebagai cadangan devisa bisa turun 8–12% dalam dekade 2026–2036 jika tren ini berlanjut
- Harga emas dan bitcoin berpotensi naik tajam sebagai aset lindung nilai alternatif
Posisi Indonesia di Tengah Pergeseran
Indonesia termasuk negara yang paling diuntungkan sekaligus berisiko dari pergeseran ini. Di satu sisi, ekspor batu bara, nikel, dan CPO ke Tiongkok akan semakin mudah diselesaikan dalam yuan (mengurangi biaya konversi). Di sisi lain, hampir 80% utang luar negeri Indonesia masih dalam dolar AS, sehingga depresiasi dolar yang tajam bisa memicu beban utang yang lebih berat.
Catatan Penting!
Pergeseran mata uang cadangan adalah proses panjang yang memakan dekade. Dolar AS masih mendominasi ~58% cadangan devisa dunia (IMF COFER Q4 2025). Yuan baru ~4,2%. Namun tren de-dolarisasi regional (khususnya di BRICS dan Asia) bergerak lebih cepat dari perkiraan banyak analis.
Yuan di Hormuz bukan akhir dari dominasi dolar, melainkan sinyal kuat bahwa era monopoli dolar di perdagangan energi mulai retak. Bagi Indonesia, ini adalah peluang sekaligus tantangan: mempercepat diversifikasi mata uang perdagangan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Dunia pasca-dolar AS mungkin tidak datang dalam 5–10 tahun, tetapi bayangannya sudah terlihat jelas di perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.